Tuesday, 10 October 2017

Get Lost in Borneo - Day 2 (Most Unforgettable Part)

18 Agustus 2017
Pukul 04.00 WITA aku sudah mandi pagi. Sehabis subuh aku ngorder gojek buat nganterin ke Terminal Batu Ampar, Balikpapan. Waktu aku mau pergi, Hoki dan Faisal masih tertidur pulas. Yaudah gw cabut aja dah.

Sampai juga bapak gojek di depan rumah Nabila di Jl. Ruhui Rahayu II. Dia keheranan, baru pertama kali ini dia njemput pelanggan sepagi ini. Kami chit-chat selama 7 km. Saat itu juga gerimis, wah niat banget ya aku perginya.

Sesampainya di Terminal Batu Ampar, aku menunggu bus Balikpapan-Samarinda. Sudah lumayan banyak orang yang menunggu di terminal.

Tiga puluh menit kemudian bus ekonomi AC bergerak meninggalkan Terminal Batu Ampar. Diriku sudah ga sabar ingin melihat ibukota Kalimantan Timur, yupss Samarinda.  Lalu aku ngabari Mas Bram yang di Samarinda kalau hari ini aku jadi ke sana. Dia welcome banget.

Waktu menunjukkan pukul 06.00 WITA. Tiba-tiba busnya berhenti di rumah makan, belum jauh dari terminal tadi. Rupanya si sopir sarapan dulu hehe. Yaudah aku ikut turun buat beli sarapan. Karena gw lagi pengiritan banget nih ceritanya, sarapan cuma pake gorengan pisang n tahu doang. Di sini memang agak mahal. Harga gorengan satunya Rp2000,-. Aku beli dua wqwqw.

Tiga puluh menit kemudian bus melaju, namun tak lama kemudian berhenti lagi. Rupanya harus ekstra sabar karena kali ini berhentinya agak lama. Sopir menelpon seseorang namun aku, tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Ternyataa, si kenek ga bisa hadir, dia lagi berhalangan, sehingga ga bisa nemenin si sopir untuk narik ke Samarinda. Akhirnya penumpang pun disuruh turun buat pindah ke bus belakangnya. Untung gratis sih perjalanan barusan. Kita baru melesat sekitar 3 km aja.



Tak lama kemudian, bus yang dimaksud datang. Horeeee! Bus patas Borneo Indah. Warnanya kuning menyala. Aku langsung bersemangat kembali. Bus ini nyaman dan melaju dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan penumpang disuguhi lagu-lagu NDX A.K.A. Lagunya emang asik-asik dan lucu bahasanya campur-campur qwqw. Gara-gara ini aku jadi download lagu-lagunya. Oiya tarif bus Balikpapan-Samarinda AC sekitar Rp38.000,-.



Tujuanku kali ini ke Terminal Lempake, Samarinda Utara, namun bus ini hanya sampai Terminal Sei Kunjang, Samarinda. Yaudah aku harus nyambung angkutan. Sepanjang perjalanan, aku menikmati pemandangan di luar kaca. Kita melewati Kutai Kartanegara. Masih banyak sekali rumah-rumah panggung dan hutan. Waaaah aku melihat Sungai Mahakam secara langsung juga ketika memasuki wilayah Samarinda.


Pukul 09.00 WITA aku sudah sampai di Terminal Sei Kunjang. Aku bingung nih naik apa. Aku  tanya-tanya sama ibu di terminal. Ternyata aku harus naik taksi oranye untuk ke Lempake.

Tau ga guys, orang-orang Samarinda biasanya menyebut angkot itu taksi. Entah mengapa wqwq. Aku mengamati lingkungan sekitar, aku ga nemuin taksi oranye. Jadi aku disaranin naik, taksi hijau ke Mall Lembuswana sama ibu-ibu, setelah itu disuruh nyambung taksi coklat buat ke Lempake yang, jaraknya sekitar 10km lagi dari Terminal Sei Kunjang. Sama Mas Bram aku disaranin naik gojek lagi, namun kalkulasi eror di area ini. Jadi aku mantap naik taksi hijau.

Aku tanya sama supir taksi hijau, "Pak, ini sampe Mall Lembuswana gabisa?" "Iyaa, naik aja." Penumpang udah lumayan banyak, taksi ini pun berjalan. Satu persatu penumpang turun, sekarang tinggal aku sendiri di sini. Aku disuruh turun juga di Mall Mesra Indah. Yaudah nurut aja, soalnya takut juga sama raut muka nih sopir, bawanya marah-marah.

Di depan Mall Mesra Indah aku pesen gojek, namun ternyata ga bisa dijemput di depan mall karena ternyata ada konflik antara supir taksi dan gojek. Jadi aku harus berjalan sekitar 300 meter ke belakang mall untuk sampai di tempat bapak gojek nunggu. Menurutku sendiri gojek tu emang diperluin terutama buat yang seneng traveling kayak aku, karena dalam waktu yang terbatas, aku harus mengunjungi banyak objek.

Bapak gojeknya sangat ramah. Di perjalanan aku bener-bener menikmati pesona ibukota Kaltim ini walaupun ga sebersih Balikpapan.

Sampai juga di Terminal Lempake, Samarinda. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Mas Bram datang menjemput dengan mobil. Horee, perjalanan baru dimulai!


Objek yang pertama dituju adalah Kampung Adat Dayak Pampang. Sumpah udah ga sabar pengen sampe saja aja. Ini tujuan utamaku ke Kaltim selain untuk mengikuti Jambore Generasi Hijau Nasional 2017. Dengan mengendarai mobil, kami blusukan ke Kampung Adat.



Akhirnya sampai di gerbang masuk Kampung Adat Dayak Pampang. Betapa bahagianya karena sebentar lagi bisa melihat orang Dayak asli secara langsung. Sudah dari SMP aku ingin ke sini. Jalan yang dilalui sebenarnya sudah lumayan bagus dan mudah diakses. Sepanjang perjalanan, aku banyak tahu tentang Kalimantan dan segala keunikannya.


Tadaaa, sampailah di Lamin Adat Pemung Tawai. Lamin besar ini sudah berdiri sekitar 50 tahun. Orang-orang dayak ini termasuk ke Dayak Apokayan yang merupakan pendatang dari perbatasan dengan Malaysia Timur.


Foto dulu nih di depan Lamin Adat. Kece banget! Akhirnyaaa sampai juga ya di sini :3 sumpah terharu aku. Dengan kenekad-anku, sampailah aku di sini. Anjing-anjing piaraan warga juga dibiarkan di sini. Mereka tidak dikandang.




Setelah itu aku mengamati ornamen-ornamen khas dayak di dinding rumah. Oiya untuk masuk ke Lamin Adat ini tiap pengunjung hanya, dikenai tarif Rp5.000,- aja. Di sini aku bisa melihat apapun yang khas dengan Suku Dayak. Mayoritas agama di sini adalah Kristen Protestan. Bangku-bangku di rumah adat ini sebagian berasal dari GKI Pampang. Orang-orang di sini masih mempertahankan tarian dan lagu ala Kalimantan.




Di sini aku bertemu dengan anak-anak Dayak. Aku sharing-sharing dan berfoto dengan mereka. Selain itu aku juga bertemu dengan nenek bertelinga panjang. Wihh mantap banget, ga sia-sia aku nyekip karena di sini aku jadi lebih open-minded. Aku dibeliin gelang khas Dayak dari manik-manik.

Jadi, pekerjaan orang-orang Pampang ini mayoritas pembuat kerajinan, petani, dan penjual kayu. Orang yang tinggal di sini, tidak hanya berasal dari Suku Dayak, namun ada juga Jawa. Dan Bugis. Toleransi dan kerja sama sangat ditegakkan.


Setelah puas di Desa Pampang, aku ditraktir Coto Makassar di Rumah Makan Marannu. Tempatnya minimalis elegan gitu. Ini kali pertamanya aku makan Coto Makassar. Enak dah serius, biasanya disantap dengan tambahan ketupat.


Setelah kenyang, kami keliling Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid ini sangat cantik dan luas. Ini merupakan masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini berada tepat di pinggir sungai Mahakam.


Percaya ga percaya, ada mitos tentang Sungai Mahakam. Barang siapa meminum airnya, maka cepat atau lambat, disengaja atau tidak, maka ia akan kembali ke Samarinda lagi. Aku sih ga percaya mitos, tapi kemungkinan kalo makan di restoran di Smd kayak Marannu, berarti aku udah minum air Sungai Mahakam hahahaha.. karena sumber air di Smd ini dari Sungai Mahakam. Bakal balik ke Smd lagi ga nih?

Pukul 15.00 WITA aku balik ke Balikpapan menggunakan bus. Aduh aku lupa! Tadi aku kok gak naik ke atas menara Islamic Center Samarinda buat melihat keindahan Kota Samarinda yang dari atas sana. Aku juga belum melihat ikan pesut di Sungai Mahakam. Sungai ini merupakan sungai terluas di Indonesia. Banyak orang menjadikannya sebagai sarana transportasi.

Di bus tujuan Samarinda-Balikpapan, aku terus melihat foto-foto di kameraku. Alhamdulillah. Aku sangat senang terutama hari ini.

Kenek bus Samarinda-Balikpapan kali iniini masih anak-anak. Aku chit-chat dengan dia. Umurnya masih 16 tahun. Perawakannya kecil. Setelah bercerita agak lama, dia jadi sangat tertarik dengan Jawa. Dia sangat ingin ke Jawa. Dan yang aku sesalkan, dia minta kontakku namu aku lupa memberi kontakku hingga aku di Terminal Batu Ampar, Balikpapan. Padahal aku masih penasaran.

Aku naik gojek dari Batu Ampar ke Ruhui Rahayu (Rumah Nabila). Alhamdulillah sampai di tujuan sebelum petang. Hoki dan Faisal telah menunggu di rumah. Mereka sebenarnya pengen ikut ke Samarinda, tapi mereka harus ke bandara menjemput anak-anak JGHN 2017 yang datang H-1. Yaudah deh aku tadi berangkat ke Smd sendiri hehehe.

Malam itu Delegasi Sumsel dan NTB ikut menginap di rumah Nabila. Kami main kartu sambil makan pempek, permen susu kerbau, dan terang bulan. Mantap dahhhh. Capek banget sih tapi aku seneng banget hari ini. Semoga tahun depan bisa ke sini lagi, ke Desa Pampang, naik Menara Islamic Center Samarinda, dan naik perahu di Sungai Mahakam.
(Bersambung....)

Monday, 9 October 2017

Get Lost in Borneo - Day 1

17 Agustus 2017
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sehabis menunaikan ibadah sholat subuh, dengan diantar oleh ayahku, aku berangkat ke Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa agar diberi keselamatan dari pergi hingga pulang nanti.

Pukul 06.15 WIB kami sudah sampai di bandara. Setelah berjabat tangan, aku masuk ke gedung bandara. Yups kali ini aku terbang sendirian. You know, bener-bener alone nih. Aku langsung mengambil trolley untuk mengangkut ransel dan barang-barang bawaanku. Habis itu aku ke toilet dulu.

Suasana cerah Kota Jogja menularkan semangat untuk segera menapakkan kaki di Tanah Borneo. Aku menuju ke counter check-in. Sebelumnya telah kusiapkan E-ticket JOG-BPN dan tak lupa kartu identitas. Berhubung belum punya KTP, maka aku menggunakan Kartu Pelajar. Setelah diperiksa dan segala macam, aku menunggu di ruang tunggu.

Jadwal take-off ku jam 08.35 WIB menggunakan pesawat Citilink QG 684 seat 26F. Kemungkinan besar aku mendapatkan posisi di samping jendela.
Karena cuaca di Balikpapan kurang mendukung, jadwal penerbangan kami delay sekitar 30-40 menit. No problem laa. Aku dah biasa kalau urusan tunggu-menunggu.

15 menit sebelum terbang, kami dipersilakan untuk memasuki pesawat. Yay sesuai dugaanku, aku mendapatkan posisi duduk di samping jendela sehingga mataku bebas mengamati setiap pemandangan yang Allah suguhkan.


Tepat pukul 09.15 WIB pesawat hijau ini terbang menjauhi Bandara Adi Sutjipto. Kebanyakan orang memilih tidur ketika perjalanan, termasuk bapak-bapak di sebelahku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan sebuah perjalanan. Maka aku memotret sebanyak yang kubisa.

17 Agustus 2017, ketika anak-anak yang lain mengikuti upacara bendera dan lomba-lomba ala 17an, aku merayakan 17an di udara.


Subhanallah. Aku semakin senang ketika melihat Laut Jawa yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan dari atas sini. Cuaca Jawa saat itu sangat cerah, namun berbeda dengan Balikpapan, Kalimantan Timur, di sana hujan sedang. Jadi selama 30 menit terakhir, pemandangan di luar pesawat yang kami tumpangi blank. Tertutup oleh kabut. Aku terus berdoa. Kami disuruh mengencangkan sabuk pengaman yang dikenakan.


Tak terasa peswat telah mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) atau Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Aku mengucap banyak syukur kepada Allah yang telah memberiku kesempatan menginjakkan kaki di Kaltim, setelah gagal ke sini pada 2013 silam. Saat itu aku kalah di penyisihan O2SN Catur 2013 tingkat Jawa Tengah. Ah sudahlah! Yang terpenting sekarang aku sudah menginjakkan kaki di tempat yang sangat ingin kukunjungi ini. 4 tahun penantian guys. Itu bukan waktu yang sebentar kan. Yea, I realize that something come to us in perfect time.



Setelah itu aku masuk ke gedung bandara. Sudah disambut oleh tulisan "Welcome to Balikpapan". Aihhhhh akhirnya sampai Borneo juga. Dah ga bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi perasaan senangku. Aku hanya bisa bersyukur.

Fyi, Bandara Sepinggan Bpn ini merupakan bandara kedua termewah dan terindah di Indonesia setelah Soetta. Konsep yang dipakai di sini adalah back to nature gitu deh. Dijamin kalian pasti betah.

Aku berjalan ke bawah menggunakan lift. Setelah mengambil bagasi, aku mengecek handphone dan berjalan lagi. Dari belakang ada yang menarik tali kerudung serut coklatku. Aihhh ternyata Faisal! Faisal dan Nabila rupanya sudah stand by di bandara untuk menjemputku. Faisal membawakan barang bawaanku menuju mobil. Rupanya Nabila ini bisa nyetir lhoo. Dia masih kelas 2 di SMA N 5 Balikpapan.

Sesampainya di rumah Nabila, aku cuci muka dan ganti kerudung. Setelah istirahat sebentar, Aku, Nabila, Faisal, dan Hoki keliling kota Balikpapan menggunakan mobil. Oiya, Hoki dan Faisal ini udah stay di Balikpapan sejak 15 Agustus kemarin loh. Mereka nyekip sekolah! Tapi ga nyesel deh soalnya di sini emang nyaman. Kita melewati Perumahan Pertamina yang asri, Pantai-pantai di Balikpapan, dan Balikpapan Islamic Center yang agak sepi. Setelah berkeliling, kami kembali ke rumah Nabila.


Rumah Nabila ini letaknya sangat strategis. Jarak dari bandara kurang dari 5 km. Samping kirinya ada food court, depan rumah ada semacam indomaret atau alfamart, dekat dengan Markas Forum Anak Kota Balikpapan dan Taman Tiga Generasi. Setiap pagi dan sore, taman ini sangat ramai oleh pengunjung yang ingin berolahraga atau sekedar bersantai. Kota Balikpapan ini sangat bersih dan rapi, hanya saha pengendara sedikit ugal-ugalan.
Setelah ashar, aku dan Hoki pergi ke Kemala Beach and Resto, Balikpapan. Tarifnya hanya Rp2000,- per kendaraan. Sore ini, banyak orang-orang yang berlari-lari, sekedar menikmati makanan, berfoto, bahkan berenang di pantai. Suasana di sini sangat nyaman. Recommended banget buat bersantai-santai ria sama temen or keluarga sambil mantengin sunset yang menawan. Serius gw! Bahkan dua rius dah.



Menjelang maghrib aku dan Hoki pergi ke Transmart. Lumayan lama kita muter-muter dan cuma beli makanan dan... tanya Hoki lah kalo mau tau apa barang yang dia beli qwqwq. Setelah Itu kami balik ke rumah Nabila. Kita muter-muter dan ternyata salah jalan, malah berkendara ke arah Samarinda n Tenggarong -_-. Anjay banget kan hahaha. Katanya sih Si Hoki dah apal nih jalan di Bpn karena dah 2 hari stay di sini. Hmmm, okelah mungkin itu ga berlaku ya kalo malem hari.


Setengah jam kemudian, kami pulang dengan selamat di rumah Nabila. Di sana, Faisal sudah menunggu kami.
(Bersambung....)

Get Lost in Borneo - Day 2 (Most Unforgettable Part)

18 Agustus 2017 Pukul 04.00 WITA aku sudah mandi pagi. Sehabis subuh aku ngorder gojek buat nganterin ke Terminal Batu Ampar, Balikpapan. ...